
Global Rise TV (Lebak-Banten),, Sabtu 02 April 2026-Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei bukan sekadar agenda tahunan yang diwarnai upacara dan slogan-slogan inspiratif. Ia lahir dari sejarah panjang perjuangan bangsa dalam membebaskan diri dari belenggu kebodohan dan penindasan. Tanggal tersebut dipilih untuk mengenang kelahiran Ki Hadjar Dewantara, yang memiliki nama asli Raden Mas Suryadi Suryaningrat. Beliau adalah sosok visioner yang tidak hanya melawan penjajahan Belanda melalui tulisan dan pemikiran, tetapi juga melalui gerakan pendidikan yang membangkitkan kesadaran nasional.
Pemikiran beliau yang terkenal, “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani,” bukan hanya semboyan, melainkan filosofi mendalam tentang peran pendidik. Di depan, seorang guru harus menjadi teladan; di tengah, ia membangun semangat; dan di belakang, ia memberi dorongan. Nilai-nilai ini melampaui zaman dan tetap relevan hingga kini. Namun, dalam realitas kehidupan modern, terasa bahwa makna dari ajaran tersebut perlahan memudar.
Semangat Hari Pendidikan Nasional hendaknya tidak berhenti pada seremoni belaka. Spanduk dengan tema indah dan pidato penuh retorika tidak akan berarti tanpa implementasi nyata. Esensi pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial. Jika nilai-nilai ini terus diabaikan, maka pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.
Ugi Ismawan mengatakan refleksi ini mengajak kita semua untuk kembali pada ruh pendidikan yang sejati. Meneladani semangat Ki Hadjar Dewantara, mari kita hidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam dunia pendidikan. Dengan kesadaran bersama dan langkah nyata, harapan akan pendidikan yang lebih baik bukanlah sesuatu yang mustahil.
Ketimpangan akses, menurunnya kualitas layanan, melemahnya peran guru, hingga tidak optimalnya pemanfaatan fasilitas menunjukkan adanya problem struktural yang tidak bisa diselesaikan secara parsial.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum koreksi arah. Pemerintah perlu mengembalikan fokus kebijakan pada substansi: memastikan anggaran tepat sasaran, memperbaiki distribusi dan kesejahteraan guru, serta membangun kembali wibawa guru sebagai pilar utama pendidikan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Saatnya berhenti berpuas diri dengan angka dan seremonial, dan mulai bekerja serius membenahi pendidikan—dari ruang kelas hingga kebijakan negara.
Deny afrianto_LitBang Redaksi Global Rise Tv.

