
Global Rise TV (Pandeglang)-Ruat Laut Carita adalah tradisi budaya dan syukuran tahunan yang biasa dilakukan oleh para nelayan dan masyarakat Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang Banten pada Bulan Muharram.
Setiap bulan Muharram Tahun Baru Islam ritual sebagai wujud rasa syukur atas hasil tangkapan ikan yang melimpah, sekaligus menjaga tradisi para leluhur mereka. Serta meminta keselamatan dan tolak bala kepada sang pencipta.

Rangkaian pelarungan sesajen dan menghias kapal serta melarungkan sesaji kepala kerbau ke tengah perairan Selat Sunda, doa bersama dzikir dan doa keselamatan oleh semua warga Nelayan.
Tujuannya untuk mendapatkan barokah, sekaligus rasa syukur yang telah diberikan oleh Allah SWT, kegiatan ini diikuti oleh warga dan para Nelayan.
Menurut ketua PAC HNSI H. Endang M sekaligus tokoh nelayan setempat, menyebutkan jika tradisi ruwat laut in merupakan bentuk rasa syukur nelayan atas melimpahnya hasil tangkapan ikan, sehingga diharapkan bisa mensejahterakan nelayan,” tradisi ruat laut ini, merupakan pestanya para nelayan dan Hut Carita ke 48 dan, sekaligus menjadi tradisi yang terus dilestarikan oleh para nelayan untuk menjaga tradisi dari leluhur,” ucapnya kepada wartawan Minggu 28/06/2026.
H. Endang juga masih mengatakan, tradisi setiap bulan Muharram di lakukan sudah turun menurun,” tradisi sesajen ini juga tidak hanya kepala kerbau yang bakal di lepaskan di tengah laut, bahkan peralatan seperti panci, bakul, wajan, tumpeng juga yang lainya ikut dibuang ke laut,” jelasnya lagi.
Selain itu dirinya menerangkan juga bakal ada warga berebut mengambil air laut untuk dibasuh ke wajahnya,” nah nantinya para nelayan akan membasuh muka pakai air laut, itu dipercaya sebagai syarat tolak bala serta pengobatan meminta harapan dan keinginan kepada sang pencipta,” katanya.

Acara tersebut juga di hadiri para pemangku kebijakan Pemerintah Kabupaten Pandeglang Bupati Serta Jajaran dan Propinsi Banten, Kementerian Perhubungan Syahbandar Kelas III Labuan, serta para wisatawan Mancanegara asal Amerika dan Kanada yang kebetulan ingin melihat proses ruwatan laut tersebut.
Hasil pantauan wartawan, terlihat ratusan warga untuk menyaksikan keberangkatan ratusan kapal nelayan yang telah di hias menuju ke tengah laut. Saat mulai berjalan,” disini juga dari 8 PAC HNSI yang ada di Kabupaten Pandeglang, nelayan juga bergabung dan menghiasi kapal mereka.
Dengan aneka warna dan pernak pernik, nelayan membawa sesajen serta satu ekor kerbau yang sudah disembelih untuk dibawa ke tengah laut, menggunakan kapal nelayan serta perahu nelayan dan biasanya di ikuti lebih dari seratus perahu,” terangnya.
Masih keterangannya saat lempar ke laut kepala kerbau juga sesajen jadi rebutan,” sesajen ini menjadi rebutan nelayan nantinya setelah lepas di tengah laut, kami mempercayai itu membawa keberuntungan,” tutur H.Endang
Membasuh muka pakai air laut juga menjadi kerangka kegiatan, sebagai syarat tolak bala atau untuk pengobatan, meminta harapan dan keinginan kepada sang pencipta,”di a laut, nantinya kami membasuh air laut ke muka dan menyiramkannya juga ke perahu para nelayan, kami melakukan tradisi itu sudah turun menurun,” masih kata H.Endang M.
Hal lain juga di ungkapkan oleh perwakilan dari Kementerian Perhubungan Kantor UPP Kelas III Labuhan H. Budi Hartono SH” kami sangat mendukung sekali dengan adanya tradisi ruwat laut ini, dan kami juga turunkan kapal patroli laut, untuk mengawal prosesi tradisi di laut,” ungkapnya.
Dalam rangkaian tradisi ini juga diiringi dengan pementasan seni budaya serta melakukan doa sembari berlayar menuju tengah laut.
Rudi Cobra

