
Global Rise TV (SUKABUMI)– Amarah warga Kampung Cimapag, Bojonggenteng, RT 01 RW 02, Desa Ciemas, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, memuncak setelah aliran listrik padam sejak pagi hingga malam hari, Minggu (1/3/2026), tanpa kejelasan perbaikan dari pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Di tengah kebutuhan yang meningkat pada bulan Ramadan, pemadaman yang berlangsung seharian itu membuat aktivitas warga lumpuh total. Mulai dari kebutuhan rumah tangga, persiapan berbuka puasa, hingga usaha kecil milik warga terpaksa terhenti. Ironisnya, menurut warga, berbagai upaya untuk menghubungi petugas PLN hanya berujung pada jawaban yang sama: “masih sibuk.”
Ketua RT 01, Ujang Supyani, mengaku sudah berkali-kali menghubungi pihak PLN sejak pagi hari. Namun hingga malam, tak satu pun petugas terlihat datang ke lokasi untuk melakukan perbaikan.

“Dari pagi saya telepon, alasannya banyak sekali. Katanya sibuk pekerjaan. Masyarakat sangat membutuhkan listrik, apalagi ini bulan puasa,” tegas Ujang kepada awak media.
Menurutnya, alasan kesibukan tidak bisa dijadikan pembenaran ketika pelayanan dasar masyarakat terabaikan. Listrik merupakan kebutuhan vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Ketika padam tanpa kepastian, dampaknya bukan hanya ketidaknyamanan, tetapi juga kerugian ekonomi dan sosial.
Warga menilai PLN telah lalai dalam menjalankan tanggung jawab pelayanan kelistrikan. Terlebih, tidak ada pemberitahuan resmi maupun estimasi waktu perbaikan yang jelas. Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam di tengah masyarakat yang berharap respons cepat dari perusahaan penyedia listrik negara tersebut.
“Seharian kami dibiarkan gelap. Tidak ada tindakan nyata. Kalau begini terus, bagaimana pelayanan kepada masyarakat?” keluh salah seorang warga.
Hingga berita ini diturunkan, listrik di Kampung Cimapag dilaporkan masih belum menyala. Warga mendesak PLN segera turun tangan dan memberikan penjelasan resmi atas lambannya penanganan gangguan tersebut.
Di bulan suci yang seharusnya dipenuhi ketenangan dan kekhusyukan, warga Cimapag justru harus menelan kekecewaan akibat pelayanan yang dinilai jauh dari harapan.
H. Adul Mustofa/Bambang Irawan

