
Finishing Acak-acakan, Hak Warga Dirampas, Buruh Tak Dibayar, Wartawan Diblokir
Global Rise TV (Bangka Tengah) —
Sabtu, 17 Januari 2026.
Proyek penataan kawasan Pantai Penyak kini bukan lagi sekadar menuai kritik—melainkan alarm keras kegagalan proyek publik. Proyek yang diduga dilaksanakan oleh PT Ciasem ini dituding meninggalkan jejak persoalan berlapis: mutu pekerjaan dipertanyakan, hak warga pesisir tergerus, buruh tak dibayar, hingga sikap tertutup ekstrem terhadap upaya konfirmasi media.
Alih-alih menjadi ikon wisata, Pantai Penyak justru terancam tercatat sebagai monumen pembiaran dan ketidak
bertanggungjawaban.
KUALITAS PROYEK DISOROT TAJAM
Finishing Diduga Asal Jadi, Timbunan Tak Padat—Risiko Gagal Konstruksi
Pantauan lapangan menunjukkan pekerjaan dengan permukaan tidak rata, struktur tampak rapuh, serta timbunan tanah yang diduga tidak dipadatkan sesuai standar teknis. Ini bukan soal keindahan—melainkan keselamatan.
Warga mengkhawatirkan amblesan dan retakan lanjutan, terutama saat hujan dan pasang laut. Jika dugaan ini benar, maka proyek berpotensi melanggar spesifikasi teknis dan menempatkan publik pada risiko.
HAK WARGA TERGILAS
Pohon Kelapa Digusur, Musyawarah Nihil, Ganti Rugi Nol
Sejumlah pohon kelapa milik warga pesisir dilaporkan digusur demi proyek. Hingga kini, pengakuan warga konsisten:
•Tidak ada musyawarah
•Tidak ada ganti rugi
•Tidak ada kejelasan administrasi
Kelapa itu sumber hidup kami. Digusur begitu saja,” kata warga. Penggusuran tanpa kompensasi dinilai sebagai dugaan perampasan hak ekonomi dan pengingkaran keadilan sosial.
BURUH TERPINGGIRKAN
Kerja Tuntas, Upah Mandek
Ironi lain mencuat: para pekerja mengaku belum menerima upah, meski pekerjaan telah mereka selesaikan.
“Kami sudah kerja, tapi gaji belum dibayar,” ungkap buruh.
Dugaan pelanggaran hak ketenagakerjaan dalam proyek berbiaya publik ini memperparah catatan kelam Pantai Penyak.
DAMPAK LANGSUNG: RUMAH RETAK
Empat Rumah Warga Rusak, Tanggung Jawab Menguap
Sedikitnya empat rumah warga dilaporkan retak, diduga kuat akibat aktivitas proyek dan kualitas timbunan. Namun hingga kini:
•Tidak ada perbaikan
•Tidak ada kompensasi
•Tidak ada itikad pertanggungjawaban
Negara seolah absen. Warga menanggung kerugian sendirian.
KONFIRMASI MEDIA DIBALAS PEMBLOKIRAN
Dalam upaya menjaga keberimbangan, tim investigasi GlobalRiseTV menghubungi pihak PT Ciasem melalui WhatsApp. Alih-alih menjawab, kontak wartawan justru diblokir.
Tindakan ini memantik kecurigaan publik dan dinilai sebagai sikap antitransparansi yang memperburuk kepercayaan. Diam bukan klarifikasi—dan pemblokiran bukan jawaban.
DESAKAN PUBLIK: BUKA DATA, USUT TUNTAS
Tekanan publik kian menguat. Tuntutan disuarakan lantang:
•Audit total proyek Pantai Penyak
•Buka kontrak, RAB, dan dokumen pengawasan
•Bayarkan seluruh upah buruh yang tertunggak
•Ganti rugi pohon kelapa warga
•Perbaiki dan kompensasi rumah warga yang retak
•Periksa pelaksana proyek dan pejabat penanggung jawab
Jika empat rumah retak saja tidak ditangani, untuk apa proyek ini dibangun?” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, PT Ciasem dan instansi teknis terkait belum memberikan klarifikasi resmi. Seluruh informasi yang disajikan masih bersifat dugaan dan menunggu penjelasan serta tindakan hukum tegas dari pihak berwenang.
GlobalRiseTV
Mega Lestari ✍️

