Dugaan Tindak Kekerasan terhadap Aktivis Mahasiswa Lebak.‎


Global Rise TV (Lebak Banten)-Dugaan Tindak Pengancaman dan Penganiayaan yang di alami salah seorang Aktivis Mahasiswa Lebak, Hendrik Arriqy, yang mana dirinya merupakan bagian dari Kepengurusan Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Lebak. Insiden tersebut terjadi menjelang agenda Audiensi bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Lebak. Menyoal Dugaan Praktik Pertambang Tanpa Izin (Peti) serta Transprasi & Solusi Pengelolaan Alun-alun Malingping, memicu kecaman luas khususnya Ketua Cabang PMII Lebak, Muhamad Nurajimanto atau kerap disapa Aji. Aji menilai bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar tindakan premanisme biasa, melainkan bentuk serius ancaman terhadap gerakan Mahasiswa dalam ruang demokrasi, Sabtu, 04-04-2026.

‎Diketahui, bahwa korban sempat mengalami tindak penganiayaan serta tekanan dari pihak tak dikenal. Terlebih, insiden ini terjadi ditengah upaya Mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi soal aktivitas tambang ilegal yang selama ini menjadi sorotan.

‎Situasi ini menimbulkan kecurigaan adanya pihak-pihak yang merasa terganggu dengan langkah kritis mahasiswa. Pasalnya, audiensi merupakan mekanisme resmi dan sah dalam menyampaikan aspirasi. Namun, malah dihadapkan pada tindakan kekerasan.
‎“Ini bukan lagi persoalan individu, tetapi sudah mengarah pada upaya pembungkaman gerakan Mahasiswa,” Ucap Aji.

‎PMII Lebak secara tegas mengecam tindakan yang terjadi serta menduga bahwa kekerasan tersebut di indikasi kuat oleh kepentingan pihak tertentu dalam rangka melindungi praktik pertambangan ilegal. Jika benar demikian, maka kasus ini harus dilihat sebagai persoalan serius yang melibatkan relasi kuasa, bukan sekadar tindakan spontan.

‎PMII Lebak mendesak agar APH tidak bersikap setengah hati menangani kasus ini. Transparansi dan keberanian dalam mengungkap pelaku hingga aktor intelektual dibaliknya menjadi pokok utama.

‎Terakhir, Aji menekankan bila APH gagal mengusut kasus ini secara tuntas, tentunya akan menjadi fenomena buruk bagi demokrasi lokal. Aktivis yang seharusnya dilindungi justru malah menjadi korban kekerasan, sementara persoalan tambang ilegal yang merugikan masyarakat tak terselesaikan. Kasus ini menjadi ujian bagi APH di kabupaten Lebak. Publik menunggu, apakah aparat mampu berdiri di atas keadilan, atau justru kembali memperlihatkan lemahnya perlindungan terhadap warga yang bersuara kritis.Yusril M

Yusril Mahendra

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[td_block_social_counter facebook="tagdiv" twitter="tagdivofficial" youtube="tagdiv" style="style8 td-social-boxed td-social-font-icons" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjM4IiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tYm90dG9tIjoiMzAiLCJkaXNwbGF5IjoiIn0sInBvcnRyYWl0X21heF93aWR0aCI6MTAxOCwicG9ydHJhaXRfbWluX3dpZHRoIjo3Njh9" custom_title="Stay Connected" block_template_id="td_block_template_8" f_header_font_family="712" f_header_font_transform="uppercase" f_header_font_weight="500" f_header_font_size="17" border_color="#dd3333"]
- Advertisement -spot_img

Latest Articles