Usai Polemik “Wartawan Bodrex”, Rere Said Subakti Sampaikan Klarifikasi dan Permintaan Maaf Terbuka kepada Insan Pers

Global Rise TV (SUKABUMI)— Polemik terkait unggahan media sosial akun @Rere Said Subakti yang memuat istilah “wartawan bodrex” akhirnya mendapat klarifikasi langsung dari pemilik akun. Pernyataan tersebut sebelumnya memicu reaksi keras dari kalangan jurnalis di Kabupaten Sukabumi karena dinilai merendahkan profesi pers di tengah sorotan publik terhadap pengelolaan kawasan wisata Ujung Genteng.

Sejumlah wartawan menegaskan bahwa pemberitaan terkait isu publik seperti tiket masuk, kebersihan kawasan wisata, hingga dugaan pungutan liar merupakan bagian dari fungsi pers sebagai kontrol sosial. Karena itu, penggunaan istilah bernada merendahkan dinilai berpotensi mencederai marwah profesi jurnalistik yang dilindungi undang-undang.

Menanggapi hal tersebut, Rere Said Subakti yang diketahui bernama asli Reni Sumarni (38) akhirnya memberikan klarifikasi saat dikonfirmasi di Polsek Ciracap, Rabu (1/4/2026).

“Saya tegaskan, tidak ada niat sedikit pun untuk menyindir wartawan secara umum ataupun lembaga pers. Pernyataan saya tidak ditujukan ke sana,” ujarnya.

Rere menjelaskan, unggahan itu muncul dari kegelisahannya melihat sejumlah konten di media sosial yang menurutnya membangun persepsi negatif terhadap kondisi wisata Ujung Genteng, terutama di tengah meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan saat libur panjang.

“Ada beberapa postingan yang menyoroti soal karcis, sampah, hingga dugaan pungli. Itu kemudian berkembang menjadi opini yang pro dan kontra, bahkan cenderung menyudutkan,” katanya.

Ia mengaku khawatir narasi negatif yang berkembang tanpa penjelasan utuh dapat memengaruhi citra daerah dan menurunkan kepercayaan wisatawan dari luar wilayah.

“Pengunjung sedang ramai-ramainya datang. Saya khawatir kalau informasi negatif terus menyebar, bisa berdampak pada minat orang untuk berkunjung,” tambahnya.

Lebih lanjut, Rere menegaskan bahwa istilah yang digunakannya tidak ditujukan kepada profesi wartawan, melainkan kepada oknum tertentu yang menurutnya bukan berasal dari kalangan jurnalis.

“Yang saya maksud adalah oknum, dan itu bukan wartawan. Saya juga tidak menyebutkan siapa pun karena unggahan saya bersifat umum,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pilihan kata yang digunakan menimbulkan multitafsir dan melukai perasaan sejumlah pihak. Ia pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada insan pers.

“Saya mohon maaf kepada rekan-rekan wartawan yang merasa tersinggung. Sungguh, itu bukan maksud saya. Ini menjadi pelajaran penting bagi saya,” ucapnya.

Rere juga berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang digital agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.

Sementara itu, kalangan jurnalis berharap peristiwa ini menjadi refleksi bersama tentang pentingnya menjaga etika komunikasi publik. Mereka menegaskan bahwa peran pers sebagai pilar demokrasi perlu dihormati, sekaligus mengajak semua pihak untuk lebih bijak dalam menyampaikan kritik di ruang terbuka.

Hj Abdul Mustopa /BB irawan

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[td_block_social_counter facebook="tagdiv" twitter="tagdivofficial" youtube="tagdiv" style="style8 td-social-boxed td-social-font-icons" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjM4IiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tYm90dG9tIjoiMzAiLCJkaXNwbGF5IjoiIn0sInBvcnRyYWl0X21heF93aWR0aCI6MTAxOCwicG9ydHJhaXRfbWluX3dpZHRoIjo3Njh9" custom_title="Stay Connected" block_template_id="td_block_template_8" f_header_font_family="712" f_header_font_transform="uppercase" f_header_font_weight="500" f_header_font_size="17" border_color="#dd3333"]
- Advertisement -spot_img

Latest Articles