Tradisi Kupat Sayur Hari ke-16 Ramadan di Cimanggu Pandeglang, Kearifan Lokal Sunda yang Terus Terjaga

Global Rise TV (Pandeglang)— Memasuki hari ke-16 bulan suci Ramadan, masyarakat di Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, memiliki tradisi khas yang masih terus dilestarikan hingga saat ini, yakni tradisi pembuatan dan penyajian kupat sayur secara bersama-sama. Tradisi yang berakar dari budaya Sunda ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Sejak pagi hari, warga di berbagai kampung di wilayah Cimanggu mulai berkumpul untuk menyiapkan bahan-bahan pembuatan kupat atau ketupat. Daun kelapa muda dianyam menjadi selongsong ketupat, kemudian diisi beras dan direbus hingga matang. Ketupat yang telah matang kemudian disajikan bersama sayur khas yang biasanya dimasak dengan santan, labu siam, kacang panjang, serta bumbu rempah tradisional yang kaya rasa.

Tidak hanya kaum ibu yang terlibat dalam proses memasak, para bapak dan pemuda desa juga turut membantu menyiapkan kayu bakar, air, serta perlengkapan memasak lainnya. Suasana gotong royong dan kebersamaan begitu terasa dalam kegiatan ini.

Tokoh masyarakat setempat menyebutkan bahwa tradisi kupat sayur pada hari ke-16 Ramadan telah berlangsung secara turun-temurun. Selain sebagai kegiatan kuliner, tradisi ini juga menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan antarwarga serta mengingatkan pentingnya berbagi di bulan yang penuh berkah.

Setelah proses memasak selesai, kupat sayur kemudian dibagikan kepada warga sekitar. Sebagian juga dibawa ke masjid atau musala untuk dinikmati bersama saat berbuka puasa. Anak-anak hingga orang tua turut merasakan kegembiraan dari tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Pemerhati budaya lokal menilai tradisi seperti ini merupakan warisan budaya yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda. Di tengah arus modernisasi, kegiatan berbasis kearifan lokal ini dinilai mampu memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, serta menjaga identitas budaya daerah.

Dengan terus dilestarikannya tradisi kupat sayur pada hari ke-16 Ramadan di Kecamatan Cimanggu, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga meneguhkan nilai-nilai sosial dan budaya yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia.

Tradisi sederhana ini membuktikan bahwa kekayaan budaya lokal tetap hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian penting dari semangat kebersamaan di bulan suci Ramadan.
Rep juhri

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[td_block_social_counter facebook="tagdiv" twitter="tagdivofficial" youtube="tagdiv" style="style8 td-social-boxed td-social-font-icons" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjM4IiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tYm90dG9tIjoiMzAiLCJkaXNwbGF5IjoiIn0sInBvcnRyYWl0X21heF93aWR0aCI6MTAxOCwicG9ydHJhaXRfbWluX3dpZHRoIjo3Njh9" custom_title="Stay Connected" block_template_id="td_block_template_8" f_header_font_family="712" f_header_font_transform="uppercase" f_header_font_weight="500" f_header_font_size="17" border_color="#dd3333"]
- Advertisement -spot_img

Latest Articles